HARMONISASI
KEHIDUPAN DI PEDESAAN
Oleh: Dian Aulia
Desa menyimpan banyak
kenangan dalam benak orang-orang yang pernah berdiam dan tinggal di desa dalam
kurun waktu yang lama, atau bagi mereka yang baru mengunjunginya, meski hanya
sebentar saja. Di desa terlihat anak-anak yang sedang berangkat ke sekolah, di
perjalanan mereka selalu bernyanyi, bercanda, tertawa, dengan menyusuri bukit
yang tinggi dan lereng yang amat terjal berkelok.
Kehidupan di desa
memiliki sejuta warna dan cerita yang penuh dengan kesederhanaan dan
kebersamaan yang kental. Misalnya ketika hujan turun, anak-anak di desa selalu
memasukkan sepatu ke dalam plastik agar tidak kotor dan memakainya ketika di
sekolah. Susah, senang, mereka lalui bersama, walaupun banyak anak-anak dari
kota yang mengejek karena seringkali menaiki mobil Pik-up atau mobil pengangkut
sayur ketika hendak berangkat ke sekolah. Tapi meskipun begitu, mereka tetap
bersabar walau hati kecilnya merasakan kesedihan yang amat mendalam dan
menanggung rasa malu. Setiap sore anak-anak di desa menghabiskan waktu dengan
bermain di suatu bukit yang sebelah kanan dan kirinya nampak jelas daerah
perkebunan dan danau yang begitu indah. Ya, disanalah anak-anak desa berkumpul
bersama, dengan membuat pesawat dari kertas mereka menyampaikan keinginannya
dengan penuh harapan, kemudian melepasnya terbang ke angkasa. “Orang yang
berhati lunak dalam usaha mencapai cita-citanya menyesuaikan diri dengan
situasi dan kondisi, namun ia tetap berusaha mencapai cita-citanya, karena itu
biarpun lambat ia akan berhasil juga mencapai cita-citanya”.
Berpikir sejenak
tentang “Kota”. Kehidupan di kota penuh dengan keramaian, semuanya serba
modern, tetapi cuacanya panas, rawan banjir, dan banyak kendaraan bermotor. Itu
menyebabkan banyak sekali polusi udara di perkotaan. Tapi mengapa orang lebih
memilih hidup di kota daripada di desa? Bahkan, banyak sekali orang desa yang
meninggalkan desanya untuk melangsungkan hidup di kota. Sedangkan sebagian
masyarakat tampaknya telah memasuki tahap perkembangan kebudayaan yang modern.
Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan itu mempunyai “Wujud kebudayaan sebagai
benda-benda hasil karya manusia”. Berbeda dengan di desa yang kebudayaannya
mengandung nilai-nilai religius yang diyakini dan dijalankan oleh masyarakat
desa. Seperti ketika Maulid Nabi Muhammad SAW dan Idul Fitri, masyarakat di
desa berbondong-bondong membawa makanan ke makam untuk melakukan do’a bersama.
Serasa indah jika berada di pedesaan, suasana yang hijau tidak tercemar oleh
berbagai macam polusi udara, khususnya polusi pada kendaraan bermotor, ditambah
suasana malam yang sudah pasti akan terasa semakin membahana jiwa.
Kebudayaan itu perlu
dilestarikan, karena kebudayaan mengandung nilai-nilai yang luhur, dan suci.
Jadi kebudayaan tidak boleh berubah dan tidak boleh diubah. Apabila terjadi
perubahan kebudayaan, maka perubahan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor
yang berasal dari dalam manusia itu sendiri, dan faktor yang berasal dari luar
masyarakat. Mayoritas penduduk desa memiliki mata pencaharian sebagai kuli
batu, dan petani. Kehidupan keagamaan yang sangat religious membuat hidup
damai, penuh ketentraman, dan penuh kesabaran.
Klampis, 14 Februari 2015
Disampaikan pada kajian diskusi
seni Sanggar Teater Layang-layang SMA Negeri 1 Arosbaya Edisi ke-6_ Sabtu, 14 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar