MUSIK METAL VS
MUSIKALISASI PUISI
Oleh: Achmad Muhjizin
Berkenalan dengan dunia musik, saya
memulainya pada tahun 2010. Musik yang saya gandrungi adalah Musik Metal
(Underground), yang cenderung sangar, keras, cadas, agresif dan cocok dengan
jiwa muda seperti saya. Bicara sejarah, sejauh referensi yang saya baca,
Underground Metal, mulai muncul di industri musik barat. Tampil dengan 2 jenis
aliran: berirama cepat dan pelan (slow). Yang berirama cepat adalah “Thrash
Metal” (biasa disebut Speed Metal & street Metal). Thrash Metal diusung
oleh Metallica. Beberapa ciri khasnya adalah lirik lagu yang bertemakan
kekerasan atau kematian. Aliran Slow Metal dijuluki “Heavy metal”. Pada awal
70'an Heavy Metal dipelopori oleh band-band seperti Led Zepplin, Deep Purple,
Queen dan sebagainya. Heavy Metal pada era tersebut masih dipengaruhi oleh
elemen Blues yang kental. Namun, Judas Priest kemudian
mengembangkan genre ini dengan menghilangkan unsur blues dan lebih mengandalkan
distorsi, beat yang lebih cepat, dan harmoni. Dari situ, musik metal menjadi
pilihan yang cocok, sekalipun jati diri pemahaman tujuan bermusik tidak penting
bagi saya. Yang penting bisa melampiaskan ekspresi kepuasan batin. Musik lain
memang menarik tapi tidak sedominan musik Metal.
Kecintaan saya&kawan-kawan sebagai
anak metal membawa gairah tersendiri dengan membangun Band Metal bernama
“Beringin Tua”, dengan genre “Black Metal”. Namun genre ini sangat meragukan
saya karena dipandang satanisme (agama yang melenceng) seperti menyembah setan
dan menjadikannya Tuhan. Seperti band “Innalillahi” dari Surabaya yang membuat
ritual saat tampil sang vokalis memakai kain kafan sehingga menyerupai pocong
dan penonton yang melihatnya diharuskan membakar dupa sehingga menggambarkan
mereka menyembah sang pocong itu, ritual tersebut dipercayai akan membawa
kesuksesan untuk band tersebut. Band selanjutnya adalah “Sakral” dari Surabaya yang
membuat ritual waktu tampil dengan menghisap darah kelinci yang masih hidup. Ritual
ini dipercayai untuk suara vokal yang lebih sangar dan bagus. Sebagai orang
awam, kadang pikiran waras saya bertanya: Apakah seperti itu bermain musik yang
baik? Sensasikah atau justru dari sana totalitas penjiwaan itu sendiri sebagai
bentuk ekspresi dalam bermusik? Menurut saya, itu terlalu berlebihan. Dan
parahnya band-band tersebut adalah band dalam negeri. Tapi kembali pada
kebebasan bermusik, sah sah saja hal tersebut dilakukan.
Memandang perkembangan musik metal
sekarang cenderung hanya sensasi yang ditonjolkan, bukan estetika dalam bermusik,
dan itu sangat bertolak belakang dengan band-band metal di luar yang lebih
mengakar pada kekayaan bermusik. Saya pencinta musik bukan pencinta ritual.
Berangkat dari 2 band di atas, band kami
tidak seperti itu. Kami ingin membuktikan tanpa ritual-ritual seperti yang
dilakukan kedua band tersebut. Seiring berjalannya waktu band kami berubah
genre menjadi “Gotik Black Metal”. Kami berkiblat dari band-band besar luar
negeri seperti: Epica, Within Tempation, Cradel Of Filth dan band-band lainnya.
Band Epica dijadikan referensi karena musik yang dibawakannya sangat kaya
kreatifitas, teknik-tekniknya pun juga sangat membuat kami menjadi fans
fanatiknya. Within Tempation pun juga sama dengan Epica, sedangkan Cradel Of
Filth dijadikan referensi selain macak wajahnya yang terlihat seram, musiknya pun
terdengar sangat bagus. Genre Gotik Black Metal sendiri adalah perpaduan antara
genre Black Metal dengan genre Gotik Metal. Jadi, kami tidak sebrutal seperti
Innalillahi dan Jelangkung.
Namun, kini saya mengenal genre baru,
yaitu Musikalisasi Puisi. Jenis musik yang ini berbeda dengan musik yang biasa
saya geluti, aneh, lebih halus dan terkesan lamban dalam membawakan, dan juga mengandalkan
totalitas penjiwaan karena arahannya puisi. Sehingga menjadi sulit untuk
beradaptasi karena dituntut untuk konsentrasi dalam membawakannya. Satu orang
saja tidak fokus atau bercanda maka hancurlah garapan musikalisasi tersebut. Hebat. Saya sendiri pernah mengalami kejadian
tersebut pada momen awal saya mengikuti lomba musikalisasi puisi tingkat
SMA/MA/SMK se Jawa Timur pada 28 Agustus 2014 yang lalu, di Aula SMKN 1
Bangkalan. Di lomba tersebut saya merasa kesulitan luar biasa, lain dengan
tuntutan pada saat saya biasa tampil dengan band metal.
Apakah seperti itu tuntutan dalam
musikalisasi puisi yang cenderung membatasi kebebasan bergerak dalam
berekspresi? Sampai sekarang saya masih bingung apa sesungguhnya keistimewaan musikalisasi
puisi itu sendiri? dan siapa pencipta
genre musikalisasi puisi tersebut sehingga bisa menciptakan musik yang indah.
Berdasarkan temuan keterangan yang saya cari di internet, Musikalisasi
Puisi adalah sebuah karya seni yang menggabungkan lagu dan puisi. Jadi
umumnya Musikalisasi Puisi itu kita membaca puisi sambil diiringi
musik beberapa bait dan bait selanjutnya dinyanyikan. Namun tidak cukup itu
saja pemahaman yang ingin saya ketahui tentang musikalisasi puisi. Kembali pada
kemasan pertunjukan, batasan ruang di atas, seakan menjadikan saya juga ruang
gerak saya dalam berekpresi jadi terbatas. Terkadang saya berangan tampilan
saya di musikalisasi puisi ingin memasukkan unsur-unsur Metal, baik dari
penampilan atau jenis musiknya. Tetapi ini sebatas angan semata, saya masih
takut untuk berani menyatakan sesuatu yang belum saya ketahui sepenuhnya.
Sebagai penikmat musik saya kagum dan
diam-diam sedikit banyak menyukai garapan-garapan musikalisasi puisi yang sudah
ada, seperti: puisi berjudul “IBU” karya Anwar Sadat, “Sepasang Mata Ayu” karya
M. Helmy Prasetya “Perempuan-Perempuan Perkasa” karya Hartoyo Andangjaya,
ketiganya digarap apik menjadi alunan irama musik yang sangat bagus.
Mendengarnya saya sangat tersentuh dan ragaku seperti ada dalam puisi tersebut
“musik yang indah,” menurutku.
Sekarang jiwa bermusik saya ada dua:
metal vs musikal. Keduanya sama-sama istimewa. Sama-sama sering kudendangkan
kapan saja saya bisa.
Arosbaya, 9 Desember 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar