Senin, 23 Februari 2015

MUSIK METAL VS MUSIKALISASI PUISI
Oleh: Achmad Muhjizin

Berkenalan dengan dunia musik, saya memulainya pada tahun 2010. Musik yang saya gandrungi adalah Musik Metal (Underground), yang cenderung sangar, keras, cadas, agresif dan cocok dengan jiwa muda seperti saya. Bicara sejarah, sejauh referensi yang saya baca, Underground Metal, mulai muncul di industri musik barat. Tampil dengan 2 jenis aliran: berirama cepat dan pelan (slow). Yang berirama cepat adalah “Thrash Metal” (biasa disebut Speed Metal & street Metal). Thrash Metal diusung oleh Metallica. Beberapa ciri khasnya adalah lirik lagu yang bertemakan kekerasan atau kematian. Aliran Slow Metal dijuluki “Heavy metal”. Pada awal 70'an Heavy Metal dipelopori oleh band-band seperti Led Zepplin, Deep Purple, Queen dan sebagainya. Heavy Metal pada era tersebut masih dipengaruhi oleh elemen Blues yang kental. Namun, Judas Priest kemudian mengembangkan genre ini dengan menghilangkan unsur blues dan lebih mengandalkan distorsi, beat yang lebih cepat, dan harmoni. Dari situ, musik metal menjadi pilihan yang cocok, sekalipun jati diri pemahaman tujuan bermusik tidak penting bagi saya. Yang penting bisa melampiaskan ekspresi kepuasan batin. Musik lain memang menarik tapi tidak sedominan musik Metal.
Kecintaan saya&kawan-kawan sebagai anak metal membawa gairah tersendiri dengan membangun Band Metal bernama “Beringin Tua”, dengan genre “Black Metal”. Namun genre ini sangat meragukan saya karena dipandang satanisme (agama yang melenceng) seperti menyembah setan dan menjadikannya Tuhan. Seperti band “Innalillahi” dari Surabaya yang membuat ritual saat tampil sang vokalis memakai kain kafan sehingga menyerupai pocong dan penonton yang melihatnya diharuskan membakar dupa sehingga menggambarkan mereka menyembah sang pocong itu, ritual tersebut dipercayai akan membawa kesuksesan untuk band tersebut. Band selanjutnya adalah “Sakral” dari Surabaya yang membuat ritual waktu tampil dengan menghisap darah kelinci yang masih hidup. Ritual ini dipercayai untuk suara vokal yang lebih sangar dan bagus. Sebagai orang awam, kadang pikiran waras saya bertanya: Apakah seperti itu bermain musik yang baik? Sensasikah atau justru dari sana totalitas penjiwaan itu sendiri sebagai bentuk ekspresi dalam bermusik? Menurut saya, itu terlalu berlebihan. Dan parahnya band-band tersebut adalah band dalam negeri. Tapi kembali pada kebebasan bermusik, sah sah saja hal tersebut dilakukan.
Memandang perkembangan musik metal sekarang cenderung hanya sensasi yang ditonjolkan, bukan estetika dalam bermusik, dan itu sangat bertolak belakang dengan band-band metal di luar yang lebih mengakar pada kekayaan bermusik. Saya pencinta musik bukan pencinta ritual.
Berangkat dari 2 band di atas, band kami tidak seperti itu. Kami ingin membuktikan tanpa ritual-ritual seperti yang dilakukan kedua band tersebut. Seiring berjalannya waktu band kami berubah genre menjadi “Gotik Black Metal”. Kami berkiblat dari band-band besar luar negeri seperti: Epica, Within Tempation, Cradel Of Filth dan band-band lainnya. Band Epica dijadikan referensi karena musik yang dibawakannya sangat kaya kreatifitas, teknik-tekniknya pun juga sangat membuat kami menjadi fans fanatiknya. Within Tempation pun juga sama dengan Epica, sedangkan Cradel Of Filth dijadikan referensi selain macak wajahnya yang terlihat seram, musiknya pun terdengar sangat bagus. Genre Gotik Black Metal sendiri adalah perpaduan antara genre Black Metal dengan genre Gotik Metal. Jadi, kami tidak sebrutal seperti Innalillahi dan Jelangkung.
Namun, kini saya mengenal genre baru, yaitu Musikalisasi Puisi. Jenis musik yang ini berbeda dengan musik yang biasa saya geluti, aneh, lebih halus dan terkesan lamban dalam membawakan, dan juga mengandalkan totalitas penjiwaan karena arahannya puisi. Sehingga menjadi sulit untuk beradaptasi karena dituntut untuk konsentrasi dalam membawakannya. Satu orang saja tidak fokus atau bercanda maka hancurlah garapan musikalisasi tersebut. Hebat.  Saya sendiri pernah mengalami kejadian tersebut pada momen awal saya mengikuti lomba musikalisasi puisi tingkat SMA/MA/SMK se Jawa Timur pada 28 Agustus 2014 yang lalu, di Aula SMKN 1 Bangkalan. Di lomba tersebut saya merasa kesulitan luar biasa, lain dengan tuntutan pada saat saya biasa tampil dengan band metal.
Apakah seperti itu tuntutan dalam musikalisasi puisi yang cenderung membatasi kebebasan bergerak dalam berekspresi? Sampai sekarang saya masih bingung apa sesungguhnya keistimewaan musikalisasi puisi itu sendiri? dan siapa  pencipta genre musikalisasi puisi tersebut sehingga bisa menciptakan musik yang indah. Berdasarkan temuan keterangan yang saya cari di internet, Musikalisasi Puisi adalah sebuah karya seni yang menggabungkan lagu dan puisi. Jadi umumnya Musikalisasi Puisi itu kita membaca puisi sambil diiringi musik beberapa bait dan bait selanjutnya dinyanyikan. Namun tidak cukup itu saja pemahaman yang ingin saya ketahui tentang musikalisasi puisi. Kembali pada kemasan pertunjukan, batasan ruang di atas, seakan menjadikan saya juga ruang gerak saya dalam berekpresi jadi terbatas. Terkadang saya berangan tampilan saya di musikalisasi puisi ingin memasukkan unsur-unsur Metal, baik dari penampilan atau jenis musiknya. Tetapi ini sebatas angan semata, saya masih takut untuk berani menyatakan sesuatu yang belum saya ketahui sepenuhnya.
Sebagai penikmat musik saya kagum dan diam-diam sedikit banyak menyukai garapan-garapan musikalisasi puisi yang sudah ada, seperti: puisi berjudul “IBU” karya Anwar Sadat, “Sepasang Mata Ayu” karya M. Helmy Prasetya “Perempuan-Perempuan Perkasa” karya Hartoyo Andangjaya, ketiganya digarap apik menjadi alunan irama musik yang sangat bagus. Mendengarnya saya sangat tersentuh dan ragaku seperti ada dalam puisi tersebut “musik yang indah,” menurutku.
Sekarang jiwa bermusik saya ada dua: metal vs musikal. Keduanya sama-sama istimewa. Sama-sama sering kudendangkan kapan saja saya bisa. 

Arosbaya, 9 Desember 2014. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar