Menulis Diri Sendiri
Oleh:
Muzammil Frasdia
Awal sebelum tulisan ini saya tulis,
Saya hanya membayangkan masa-masa dulu saya mendapat tugas menulis dari orang
lain. Saya menulis diri sendiri waktu itu. Diri yang memiliki kepekaan rasa berpikir
jauh dan kerdil. Saya membayangkan hasil usaha saya akan dihina, dicaci maki,
di ini itu - dingin keringatan segala macam sampai niat yang semula besar,
pelan-pelan melemah dan berubah menjadi sesuatu hal yang berdampak buruk akan saya
terima kelak. Saya tidak mengerti mengapa ada pikiran semacam itu singgah di
otak saya ketika saya harus menulis. Padahal satu kalimat pun belum saya
ciptakan waktu itu. Hanya ketakutan-ketakutan dalam angan yang melebihi tulisan
yang ingin saya tulis. Aneh saya bilang. Perasaan takut, malu, bingung, dagdigdug jantung ini berpacu seperti
dikejar hantu, menambah naluri hidup saya sebagai manusia kacau. Sekali lagi
saya amatir. Baru kali ini saya ditantang dan tertantang untuk membuktikan
sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Jiwa ditekan jiwa. Dan entah
dengan cara apa saya harus meredamnya agar tidak menjadi kebingungan yang
berkepanjangan.
“Menulis”, ya, itulah konsekuensi pekerjaan
yang harus saya tanggung. “Menulis adalah
pekerjaan mulia. Seperti menanam kebaikan untuk hari tua.” Atau kutipan
seorang sastrawan Pramoedya Ananta Toer
itu mengatakan “Orang boleh pandai
setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat
dan dari sejarah.” Apa pentingnya menulis bagi diri, hidup, juga masa depan
saya. Bukankah hidup yang saya miliki ini sudah cukup: makan, minum, main game, jalan-jalan, uang bulanan lancar,
pergi ke Mall, atau hal-hal yang membuat hidup saya ini sudah tidak butuh lagi
sesuatu yang membuat saya malas berpikir atau melakukan sesuatu.
Sadar saya, setelah saya berhasil dengan
satu tulisan yang saya ciptakan. Ternyata ada sesuatu yang mengantarkan pikiran
jernih saya pada waktu itu pada hal-hal yang jauh dan belum tersentuh. Saya
merasa belum cukup dengan keadaan ini. Keadaan yang saya ciptakan dan merasa
cukup dengan dunia hiburan di atas yang sebelumnya penuh hari-hari saya isi
dengan jalan-jalan. Jalan-jalan yang artinya hati dan pikiran bebas bergerak ke
mana saja saya butuh. Namun, jalan-jalan ke yang lain belum saya sentuh. Ada
sesuatu yang membuat saya berpikir lain lebih dari kepentingan di atas, yakni
masa muda saya. Masa muda yang tidak
hanya ingin diperuntukkan untuk bersenang-senang. Dunia berpikir kreatifitas
atau membangun diri yang berani masih tidak terasah dalam diri saya. Maka dari itu saya memulainya dari diri
sendiri. karena jujur, saya merasa ketakutan pada masa tua saya kelak, jika
masa muda saya tidak saya isi dengan hal-hal yang positif. Kadang saya ingin
peduli dengan kata-kata ini: luka, senang, sedih, cemas, takut, benci, rindu,
dsb. Saya ingin mendekati mereka semua. Menulisnya dengan cara diri sendiri.
Sebab bagi saya, mereka adalah bagian dari perjalanan hidup, yang sayang bila
tidak saya kenang dalam catatan kebudayaan di masa tua saya.
Arosbaya,
10 Januari 2015
Disampaikan pada kajian diskusi
seni Sanggar Teater Layang-Layang SMA Negeri 1 Arosbaya_edisi 1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar